Sunday, January 2, 2011 0 komentar

Design Baju Sekedarnya

Ini adalah game yang pernah dimainkan dalam mata kuliah Ketrampilan Interpersonal.

Dalam kegiatan ini setiap kelompok diberi beberapa kertas warna-warni dan peralatan lainnya seperti gunting, lem kertas, dan selotip. Kami memilih 1 laki-laki dan 1 perempuan untuk dijadikan model. Baju yang akan dibuat dari bahan-bahan terbatas harus tetap unik dan estetik (indah). Kami diberi kebebasan akan tema bajunya. Waktu yang diberikan kepada kami tidak banyak, sehingga kami harus berbagi tugas untuk membuat baju untuk si laki-laki dan perempuan.

Setelah waktu habis. Para model berkumpul dan secara pergantian naik ke atas panggung untuk bergaya. Designer dari setiap kelompok akan mempresentasikan maksud dari desain bajunya. Dan bagi anggota kelompok lainnya bertugas menyanyikan lagu untuk mengiringi model naik ke atas panggung.

Dengan adanya kegiatan ini, kami mendapat banyak hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
  • Berpikir kreatif. Mendesain baju dalam kegiatan ini sangat membutuhkan kekreatifan. Membuat sesuatu yang berbeda dan unik. Tentu tidak mudah bila kita jarang melatih diri untuk berpikir out of box. 
  • Menyatukan segala ide. Banyak ide yang muncul dalam mendesain baju. Menjadi tantangan dalam kelompok untuk menyatukan itu semua. Karena tidak mudah untuk menyatukan banyak hal yang berbeda. 
  • Memanfaatkan hal yang minim menjadi hal yang maksimal. Dengan bahan yang terbatas kita harus mampu membuat desain baju yang terbaik. Sama halnya dengan fasilitas atau kemampuan kita yang terbatas, kita tetap harus bisa membuat hal yang kita miliki menjadi maksimal. 
  • Melatih keuletan. Dengan segala keterbatasan kita tetap harus mampu menghasilkan yang terbaik. Tidak mudah menyerah meski banyak kendala yang menghadang. Kita harus ulet dalam hidup ini. Karena dengan begitu kesuksesan semakin dekat dengan kita. 
  • Bekerja cepat. Waktu yang kita miliki terbatas. Sehingga kita harus benar-benar bisa memanfaatkannya dengan baik. Karena waktu tidak dapat diulang. Maka jangan sia-siakan waktu yang kita miliki. 
  • Kebersamaan. Tidak dipungkiri berkumpul dengan banyak orang, bercengkrama satu dengan yang lain dan memecahkan masalah bersama-sama sangat menyenangkan. Dengan adanya kegiatan ini menumbuhkan rasa kebersamaan. Kita tidak mungkin bisa bermain seperti ini. Maka rasa kebersamaan sangat dibutuhkan untuk mewarnai hidup ini. 
  • Kerja sama. Dalam kegiatan ini, semua anggota turut partisipasi. Semuanya sibuk dalam mendesign. Semua beraktifitas, tidak ada yang diam. Kerja sama sangat dibutuhkan dalam kegiatan ini. 
  • Kekompakan. Dalam berkelompok tentu dibutuhkan kekompakan. Dengan itu kesuksesan akan tercapai. Suatu kelompok harus bersatu tidak boleh terpecah. Kalau pun ada perbedaan hendaknya harus bisa saling menghargai. 
  • Belajar berkomunikasi. Yakni pada saat presentasi tentang design baju. Ini melatih kita untuk mampu berbicara di muka umum dan berani untuk dilihat banyak orang. Tidak mudah melakukan hal ini, maka kita perlu membiasakan diri.
Saturday, January 1, 2011 0 komentar

Pelangi Perbedaan

Ini adalah salah satu game pada mata kuliah Ketrampilan Interpersonal. 

Setiap orang mengambil 1 pensil warna. Setelah semua memegang 1 pensil warna, lalu kami berkumpul dengan orang yang memiliki pensil warna yang warnanya berdekatan. Seperti merah dan merah muda. Setelah berkumpul, kami berdiskusi mengenai hal apa saja yang sama dalam kelompok. Setelah itu kami berkumpul dengan orang yang memiliki pensil warna yang warnanya jauh berbeda.

Kemudian kami berkumpul dalam kelompok inti. Mendiskusikan tentang performance untuk minggu depan yang bertemakan box office. Kita dapat menampilkan drama, bernyanyi ataupun yang lain. Kemudian kami diberi sebuah karton. Kami diperintahkan untuk menggambarkan atau mengilustrasikan rencana performance minggu depan. Namun aturannya setiap orang harus berpartisipasi menggambar atau menggoreskan sesuatu di karton dengan pensil warna yang dimiliki.

Setelah waktu yang diberikan habis, kami mempresentasikannya di atas panggung.

Dengan adanya kegiatan ini, kami mendapat banyak hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

  • Berani mengutarakan pendapat, ide atau gagasan. Pada saat menentukan segala hal yang berkaitan dengan performance, tentu semuanya ingin memberikan pendapat, ide atau gagasan. Namun tidak semua berani untuk mengutarakan. Entah karena takut salah, ditolak atau apa. Namun bila kita mampu mengutarakan pendapat, maka semakin banyak pilihan yang dapat dipakai oleh kelompok. Kita perlu tahu bahwa tidak ada salah atau benar dalam berpendapat, maka tidak ada gunanya takut dalam mengutarakan pendapat. Bisa saja pendapat yang kita miliki adalah pendapat yang terbaik untuk kelompok, hanya saja kita tidak mengutarakan. Maka kelompoklah yang mendapat akibatnya. Kelompok kita tidak menjadi yang terbaik. 
  • Menghargai pendapat orang lain. Dengan cara mendengarkan orang lain yang sedang berbicara atau menjelaskan pendapatnya tersebut. Sangat tidak sopan bila ada orang lain sedang menjelaskan pendapatanya, kita malah berbicara sendiri dengan teman di sebelah ataupun memotong pembicaraan tanpa permisi. 
  • Bersabar atau menerima apabila pendapat tidak digunakan. Tidak mungkin semua pendapat yang muncul di pakai semua. Maka kita harus bersabar dan menerima ketika pendapat kita tidak dipakai. Karena keputusan yang diambil tentunya adalah keputusan terbaik untuk kelompok. 
  • Menyatukan segala ide. Banyak ide yang muncul dalam hal ini. Menjadi tantangan dalam kelompok untuk menyatukan itu semua. Karena tidak mudah untuk menyatukan banyak hal yang berbeda. 
  • Berpartisipasi. Dalam kegiatan ini kami semua ingin berpartisipasi. Ingin menyumbangkan sesuatu untuk kelompoknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa semua anggota memiliki andil dalam kelompoknya masing-masing. 
  • Kreatif dalam mengilustrasikan gambar. Dengan adanya kebebasan dalam mengilustrasikan ke dalam bentuk gambar maka kita dapat melatih kekreatifan pada diri. Kita harus mampu membuat semenarik mungkin dan berbeda atau tidak biasa. Karena kreatif bukanlah ilmu yang dapat dipelajari. Kita dapat menimbulkan sisi kreatif kita bila bertemu suatu kasus dimana kita berkesempatan menyelesaikan dengan usaha kita sendiri. 
  • Kerja sama. Dalam proses mengilustrasikan, semua anggota turut partisipasi. Ada yang menggambar bagian tertentu, ada juga yang mewarnai. Sehingga saling mengisi dan melengkapi. Karena kita memiliki kemampuan yang berbeda-beda, maka sudah semestinya kita saling mengisi dan tolong menolong. 
  • Kekompakan. Dalam berkelompok tentu dibutuhkan kekompakan. Dengan itu kesuksesan akan tercapai. Suatu kelompok harus bersatu tidak boleh terpecah. Kalau pun ada perbedaan hendaknya harus bisa saling menghargai. 
  • Tahu cara bersikap yang baik di dalam kelompok maupun di muka umum. Kelompok adalah contoh kehidupan sosial yang sederhana. Kelompok terdiri dari beberapa orang yang memiliki persamaan dan perbedaan. Baik asal usul atau karakter. Disinilah kita dituntut bersikap dengan benar agar kita dapat hidup di dalam kelompok. Bila kita tidak dapat hidup di kelompok seperti ini, lalu bagaimana bisa kita hidup di masyarakat yang luas? Di kelompok inilah kita dapat banyak belajar bersikap yang baik. 
  • Belajar berkomunikasi. Hal ini terlihat pada saat menjelaskan atau presentasi ke khalayak. Dalam hal ini kami dituntut untuk mampu menjelaskan ilustrasi yang kami buat kepada khalayak. Sehingga dengan kegiatan ini kami akan terbiasa berbicara dan diperhatikan banyak orang. Karena sesuatu hal dapat berjalan dengan lancar atau baik disebabkan seringnya hal itu dilakukan. 
  • Berpenampilan menarik dan berani tampil beda. Ketika kami presentasi di atas panggung, penonton akan tertarik terhadap sesuatu yang berbeda dengan apa yang biasa mereka lihat. Dengan begitu kita harus mencari cara presentasi yang unik yang belum pernah digunakan kelompok lain. 
  • Percaya diri untuk dilihat banyak orang lain. Saat presentasi, tentu tidak sedikit mata yang memandang. Kita harus percaya diri. Dengan adanya kegiatan seperti ini, tentu akan melatih diri kita untuk percaya diri dan tidak malu untuk naik ke atas panggung dan di lihat banyak orang. 
  • Melatih mental. Saat di atas panggung, pasti banyak reaksi dari penonton, entah tepuk tangan atau sorak mengejek. Tentu hal itu mempengaruhi mental kita. Dengan adanya kegiatan seperti ini, akan melatih diri kita untuk memiliki mental yang kuat dan tidak mudah terpengaruh terhadap apa yang dilakukan oleh penonton.
0 komentar

Semrawutnya Penjualan Karcis

Di tengah euphoria kemenangan Timnas Garuda selama lima kali pertandingan dalam Piala AFF, muncul gelora nasionalisme yang membara di masyarakat. Puluhan ribu bahkan ratusan ribu penggemar bola menyerbu stadion olah raga Bung Karno untuk mendapatkan karcis untuk menyaksikan secara langsung tim kesayangan mereka bertanding.

Karcis yang harganya paling murah 50 ribu rupiah itu laris manis terjual habis. Padahal di babak penyisihan dan semi final, harga karcis mencapai 500 ribu rupiah. Bahkan dalam laga final nanti harga karcis tertinggi sudah dipatok satu juta rupiah. Sedangkan harga termurah sebesar 75 ribu rupiah. Meskipun setelah diprotes oleh Presiden SBY harga karcis terendah diturunkan menjadi 50 ribu, namun tersirat adanya orang-orang yang berusaha mengambil keuntungan dalam kesempitan.

Ada satu hal lagi yang memalukan yakni pelayanan penjualan karcis yang semrawut. Ribuan orang harus mengantri berjam-jam hanya untuk mendapatkan selembar karcis. Padahal banyak diantara mereka yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Seharusnya panitia bisa memanfaatkan teknologi internet untuk menjualnya Atau bekerja sama dengan stasiun radio dan pihak lain untuk memasarkannya, sehingga pemasaran tidak menumpuk di Senayan. Bahkan bisa memanfaatkan cabang-cabang PSSI di seluruh Indonesia.

0 komentar

But and Yes

Berikut adalah game yang perna saya mainkan dalam mata kuliah Ketrampilan Interpersonal. 

Kami duduk berpasang-pasangan. Ditentukan siapa yang menjadi orang pertama dan kedua. Untuk sesi pertama, orang pertama melontarkan sebuah pernyataan yang bertemakan liburan, kemudian orang kedua menanggapinya dengan mengucapkan kalimat yang diawali dengan “YA TETAPI…”

Untuk sesi kedua, orang kedua melontarkan sebuah pernyataan yang tetap bertemakan liburan, kemudian orang pertama menanggapinya dengan mengucapkan kalimat yang diawali dengan “YA DAN…"

Dengan adanya kegiatan ini, kami mendapat pelajaran hidup yang dapat diterapkan dalam kehidupan bersosial, seperti:

  • Menyimak dan mendengarkan dengan baik. Untuk menjadi pendengar yang baik kita harus menyimak dan mendengarkan dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut pembicara. Sehingga kita paham mengenai apa yang sedang dibicarakan. 
  • Belajar berkomunikasi. Saat kita berbicara kita harus berani menatap kedua bola mata lawan bicara kita. Jangan menunduk ataupun melihat ke arah yang tidak ada hubungannya dengan pembicaraan, yang terkesan acuh. 
  • Melatih konsentrasi. Dalam kegiatan ini, keadaan sangat ramai karena teman yang berada disebelah kanan dan kiri juga melakukan hal yang sama. Sehingga kita dituntut berkonsentrasi dan tetap fokus terhadap apa yang diucapkan oleh lawan bicara kita. Sulit memang untuk berkonsentrasi di dalam situasi yang ramai. Namun bila kita telah terbiasa maka hal itu akan terlihat sangat mudah untuk dilakukan. 
  • Melatih kekreatifan. Dalam menanggapi pernyataan teman dengan aturan seperti yang tertulis di atas memang agak susah. Maka kita harus berpikir kreatif untuk menjawabnya agar pembicaraan menjadi benar dan seru. 
  • Menjadi pendengar yang baik. Untuk menjadi pembicara yang baik, kita harus mampu menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Yakni mendengar dengan seksama setiap orang lain berbicara. Dengan begitu kita akan tahu rasanya menjadi pendengar. Dan bila kita berada di posisi si pembicara, maka kita akan tahu bagaimana membuat pendengar kembali fokus kepada kita (pembicara). 
  • Menjaga perasaan orang lain. Sangat tidak sopan bila ada orang yang berbicara namun tidak dihiraukan. Hal itu akan melukai perasaan orang yang berbicara. Mendengarkannya dengan seksama dan menatap kedua bola matanya adalah hal yang bisa dilakukan sebagai wujud apresiasi kita kepada si pembicara. 
  • Ketika kita berkata diawali dengan “ya tetapi…” rasanya tidak mengenakan. Karena pernyataan yang diawali kata tersebut terkesan menolak pernyataan sebelumnya. Karena sifat kata “tetapi” adalah kebalikan. 
  • Ketika kita berkata diawali dengan “ya dan…” rasanya lebih enak daripada tetapi. Karena pernyataan yang diawali kata tersebut mengesankan bahwa pernyataan sebelumnya benar dan kita menyetujuinya.
 
;